Bayi Tidak Mau Makan (GTM): Penyebab dan Cara Mengatasinya
GTM (Gerakan Tutup Mulut) bukan berarti bayi nakal. Kenali 4 penyebab utamanya dan cara tepat mengatasinya.

"Sudah susah payah dimasak, tapi mulutnya rapat dan wajahnya dipalingkan." "Baru lihat sendok saja sudah menangis." "Kemarin masih mau makan, kok tiba-tiba menolak?"
Pernah mengalaminya? Di Indonesia kondisi ini dikenal dengan istilah GTM (Gerakan Tutup Mulut) — salah satu keluhan yang paling sering dialami Mama selama masa MPASI dan makanan balita.
Tarik napas dulu. GTM bukan berarti si Kecil nakal, dan bukan pula karena masakan Mama tidak enak.
Apa Itu GTM?
GTM adalah istilah umum untuk perilaku menolak makan. Menutup mulut, memalingkan wajah, menepis sendok dengan tangan, menangis — semua itu adalah cara si Kecil menyampaikan keinginannya.
Panduan yang berlaku sangat menganjurkan untuk tidak memaksa anak makan. Semakin Mama panik dan merasa "harus dimakan", semakin si Kecil merasa waktu makan adalah sesuatu yang menegangkan.
GTM juga sama sekali bukan hal yang langka. Berbagai survei internasional menyebutkan bahwa 20–50% anak pernah mengalami fase menolak makan. Mama tidak sendirian.
4 Penyebab Utama GTM
① Kondisi tubuh sedang tidak nyaman
Demam, hidung tersumbat, nyeri karena gigi tumbuh, sariawan, atau sekadar mengantuk — semua bisa menurunkan nafsu makan. Bila ia tidak mau makan beberapa hari berturut-turut, periksa dulu kondisi tubuhnya.
② Perubahan nafsu makan yang wajar seiring pertumbuhan
Setelah usia 1 tahun, kecepatan pertumbuhan melambat sehingga kebutuhan energinya berkurang dan nafsu makannya menurun secara alami. Selain itu, keinginan untuk "menentukan sendiri" mulai tumbuh, dan menolak makanan menjadi salah satu bentuk menyatakan diri.
Selama berat badannya naik normal dan ia aktif bermain, Mama tidak perlu terlalu khawatir.
③ Tekstur, rasa, atau tampilan tidak cocok
Menu dan tekstur yang itu-itu saja setiap hari membuat si Kecil kehilangan minat. Tekstur yang tidak sesuai usianya — terlalu keras atau justru terlalu lembut — juga sering menjadi penyebab penolakan.
④ Cara memberi makan dan suasana makan
Penyebab GTM yang paling sering ditemukan justru bukan pada makanannya, melainkan pada cara dan suasana makan yang tidak sesuai usia.
- Menyuapi sambil TV atau ponsel menyala
- Terburu-buru saat si Kecil makan lambat
- Memaksa memasukkan makanan ke mulut
- Waktu makan berlangsung lebih dari 1 jam
Yang Perlu Dicoba Lebih Dulu: Bukan Masakannya
Sebelum mengubah isi makanan, tata dulu suasana di meja makan.
- Sajikan dalam porsi kecil — porsi yang terlihat banyak membuat anak enggan sejak awal. Turunkan dulu "ambang batasnya" agar ia merasakan puasnya menghabiskan makanan
- Tetap sajikan meski tidak dimakan — anak di usia ini mudah berubah pikiran. Kalau tersaji, ada kalanya ia mau mencoba. Jangan buru-buru menyimpulkan "dia tidak suka"
- Puji setiap kali ia makan — sedikit pun, berikan pujian. Rasa senang itu yang menumbuhkan keinginan makan berikutnya
Cara Mengatasi GTM pada Bayi
Makan bersama sambil menunjukkan wajah menikmati Bayi belajar dengan meniru orang dewasa. Duduklah di meja yang sama dan tunjukkan bahwa Mama dan Papa menikmati makanannya.
Campurkan dengan bahan kesukaannya Padukan bahan yang ditolak dengan bahan favoritnya. Boleh dicampur agar tidak terlihat, atau cukup disajikan berdampingan.
Coba beralih ke finger food Bila ia tidak suka sendok, ubah bentuknya menjadi yang bisa digenggam dan biarkan ia makan sendiri. Rasa mampu mengendalikan sendiri sering kali mengurangi penolakannya.
Batasi waktu makan sekitar 30 menit Dengan adanya batas waktu, si Kecil belajar bahwa waktu makan itu terbatas.
Yang sebaiknya tidak dilakukan:
- Memaksa memasukkan makanan ke mulut
- Terus menyuapi meskipun ia menangis
- Memarahinya setiap kali makan
Hal-hal ini menimbulkan rasa takut terhadap waktu makan itu sendiri, dan justru membuatnya semakin sulit makan dalam jangka panjang.
Untuk Anak 1 Tahun ke Atas: Trik Mengatasi Pilih-Pilih Makanan
Setelah usia 1 tahun, jenis keluhannya berubah. Berikut trik memasak berdasarkan masalah yang sering muncul.
Untuk anak yang tidak suka sayur
- Tambahkan kekentalan atau masukkan ke dalam sup agar tidak kering dan lebih mudah ditelan. Membungkusnya dengan kulit pangsit juga bisa dicoba
- Sayuran yang pahit sebaiknya dimasak matang untuk memunculkan rasa manisnya. Menambahkan sedikit minyak akan memperkaya aromanya
- Buat tampilannya menarik — cukup dicetak berbentuk bintang atau hati dengan cetakan kue, minatnya bisa berubah. Mengajaknya ikut mencetak akan lebih efektif lagi
Untuk anak yang tidak suka ikan
- Beri sedikit bumbu yang disukainya, misalnya saus tomat
- Buat menjadi sup atau masakan berkuah, tambahkan lapisan tepung, atau campurkan ke dalam adonan dadar lalu dipanggang agar teksturnya lembut
- Hilangkan bau amisnya dengan bumbu — lumuri ikan dengan sedikit kecap asin, diamkan sebentar di kulkas, lalu balur tepung maizena dan goreng sebentar agar harum dan mudah dimakan
Untuk anak yang tidak suka daging
- Daging iris tipis justru kadang lebih mudah dimakan bila ukurannya agak besar. Bila terlihat sulit dikunyah, potong sekitar 1 cm
- Balur dengan tepung terigu atau maizena lalu panggang, tambahkan kekentalan, atau tambahkan kuah agar teksturnya lebih mudah ditelan
Menambah gizi lewat protein
Anak yang makannya sedikit atau tidak menentu hanya mendapat gizi terbatas dalam sekali makan. Siasati agar proteinnya tetap tercukupi meski porsinya kecil.
- Campurkan protein yang praktis seperti telur, keju, atau sosis ke dalam masakan. Dimasukkan ke dalam gulungan roti atau adonan panggang akan lebih mudah dimakan
- Tahu serbaguna — bisa ditumis, dijadikan sup, atau sebagai perekat adonan. Mengubah tampilannya kadang membuat nafsu makannya kembali
- Sadari perbandingan karbohidrat : sayur : protein = 3 : 1 : 2 saat menata kotak bekal atau piring, agar gizinya lebih mudah seimbang
Menambah gizi lewat lemak dan produk susu
Justru untuk anak yang makannya sedikit, lemak dan produk susu sangat membantu karena bisa memberi kalori dan gizi dalam jumlah kecil.
- Sedikit saja mentega, minyak zaitun, atau minyak wijen di akhir masakan akan menambah aroma dan membuatnya lebih berselera, sekaligus menambah kalori secara efisien
- Keju, yoghurt, dan susu sekaligus melengkapi kalsium, protein, dan lemak. Lelehkan ke dalam masakan atau sajikan sebagai camilan
- Saus salad dan mayones pun boleh dalam jumlah kecil. Dengan rasa yang disukainya, sayur pun jadi lebih mudah masuk
Bentuk yang mudah digenggam mendorong makan sendiri
Ini masa ketika keinginan "mau makan sendiri" sedang tumbuh. Cukup dengan mengubah bentuknya agar mudah digenggam, semangat makannya bisa meningkat drastis.
- Buat bentuk stik, donat, atau bola yang tidak mudah hancur meski digenggam kuat
- Bentuk stik sebaiknya seukuran 2–3 suapan, sekaligus melatihnya menggigit dengan gigi depan
- Menatanya di kotak bekal untuk memberi variasi tampilan juga patut dicoba. Suasana yang berbeda dari biasanya kadang membangkitkan nafsu makan
- Memperkuat rasa dengan kaldu atau sedikit bumbu juga efektif untuk memberi variasi
Bahan Baru Perlu Dicoba 10–15 Kali
Meski sekali ditolak, jangan buru-buru menyimpulkan "anak ini tidak suka". Ada anak yang baru menerima bahan baru setelah dicoba 10–15 kali. Beri jeda beberapa hari, sajikan bersama bahan kesukaannya, atau ubah cara memasaknya, lalu lanjutkan perlahan.
Coba juga lihat isi makanannya dalam rentang satu minggu. Sering kali ternyata sudah cukup seimbang. Daripada memikirkan hari ini ia tidak makan, lihatlah gambaran besar minggu ini.
Kapan Perlu ke Dokter?
Meski GTM berlanjut, selama berat badannya naik dan ia tetap aktif, umumnya cukup diamati. Namun segera konsultasikan ke dokter atau ahli gizi bila:
- Berat badannya tidak naik atau justru turun
- Setelah usia 7 bulan sama sekali belum bisa menelan makanan padat
- GTM berlangsung lebih dari 3 bulan
- Rasa takutnya terhadap makanan sangat kuat hingga panik setiap kali waktu makan
---
📖 Tanda-Tanda Bayi Siap Memulai MPASI 📖 Tekstur Makanan Bayi Sesuai Umur 📖 Berat Badan Bayi Tidak Naik 📖 Porsi Makan Bayi Berdasarkan Usia
Referensi
- UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2018.
- Kementerian Kesehatan RI. Buku Resep Makanan Lokal untuk Bayi, Balita, dan Ibu Hamil; 2023.
- WHO. Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age. Geneva: WHO; 2023.
Resep yang Cocok





