Kapan Bayi Boleh Makan Telur? Panduan Lengkap dan Aman
Telur bisa diberikan mulai 6 bulan! Panduan lengkap memperkenalkan telur — urutan kuning-putih, porsi awal, dan tanda alergi yang perlu diwaspadai.

"Khawatir alergi, jadi belum saya coba beri telur." "Mulai dari kuning telur? Atau langsung telur utuh saja?"
Telur bergizi tinggi dan merupakan salah satu bahan yang sulit digantikan dalam MPASI. Namun tidak sedikit orang tua yang ragu memulainya karena takut alergi. Dengan pemahaman yang tepat, Mama bisa menjalaninya jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan.
Kapan Boleh Mulai? Jawabannya: Sejak Usia 6 Bulan
Menurut panduan yang berlaku saat ini, telur sudah boleh diberikan sejak usia 6 bulan — bersamaan dengan dimulainya MPASI.
Dahulu, cara pandang yang umum adalah "tunda dulu karena khawatir alergi". Namun dalam beberapa tahun terakhir muncul hasil penelitian yang berbeda.
Sebuah uji klinis yang dilakukan di Jepang (PETIT, 2016, dimuat di The Lancet) melaporkan bahwa pada bayi berusia 6 bulan yang sudah memiliki eksim, kelompok yang diberi telur secara bertahap sejak dini mengalami alergi telur sebesar 8%, sedangkan kelompok yang terus menghindarinya mencapai 38%. Karena hasilnya begitu jelas, uji tersebut dihentikan lebih awal dari jadwal.
⚠️ Namun perlu dicatat, hasil ini terutama berlaku pada bayi "berisiko tinggi" yang memiliki eksim, sehingga belum tentu memberi efek yang sama pada semua bayi. Ada pula penelitian lain yang tidak menemukan efek perlindungan dari pengenalan dini, sehingga hasil penelitiannya belum sepenuhnya seragam.
Setidaknya, yang menjadi kesimpulan bersama dari banyak penelitian saat ini adalah: dasar untuk meyakini bahwa "terus menghindari telur dapat mencegah alergi" sangatlah lemah.
Mulai dari Kuning Telur atau Telur Utuh?
Dulu dianjurkan untuk maju hati-hati dengan urutan "kuning telur → putih telur". Namun pandangan terkini menyebutkan bahwa selama telur dimasak matang sempurna, memberikan telur utuh sekaligus pun tidak menjadi masalah.
Meski begitu, banyak dokter anak hingga kini tetap menyarankan tahapan berikut demi keamanan.
① Mulai dari kuning telur rebus matang (sejak 6 bulan)
Rebus telur hingga benar-benar matang, ambil kuningnya saja, lalu haluskan. Encerkan dengan sedikit ASI, susu formula, atau air matang agar lebih mudah dimakan.
② Bila tidak ada reaksi, lanjut ke telur utuh
Amati selama beberapa hari. Bila tidak ada masalah, lanjutkan ke telur utuh termasuk putihnya.
Risiko alergi memang terutama ada pada putih telur, tetapi kuning telur pun kadang masih menyisakan sedikit protein tersebut. Jadi jangan lengah — tetap mulai dari porsi kecil.
Porsi dan Waktu Pemberian
| Tahap | Panduan |
|---|---|
| Suapan pertama | 1 sendok teh (kuning telur yang dihaluskan) |
| Bila tidak ada masalah setelah sekitar 1 minggu | Tambahkan sedikit demi sedikit |
| Setelah terbiasa | Hingga 1 butir telur utuh, dikombinasikan dengan protein lain |
Hal yang wajib dipatuhi:
- Selalu masak hingga matang sempurna. Setengah matang atau mentah sama sekali tidak boleh (risiko salmonella)
- Sama seperti bahan baru lainnya, berikan di pagi hari (bila terjadi sesuatu, lebih mudah berobat di siang hari)
- Pada awalnya berikan sendiri saja, jangan bersamaan dengan bahan baru lain
Tanda Reaksi Alergi
Amati apakah gejala berikut muncul dalam beberapa menit hingga 2 jam setelah makan.
- Kemerahan pada kulit, biduran, gatal
- Bengkak pada bibir atau wajah
- Pilek, bersin
- Muntah, diare, sakit perut
- (Pada kasus berat) sesak napas, tubuh lemas
Bila gejalanya ringan, hentikan telur sementara dan konsultasikan pada kunjungan berikutnya. Bila terjadi sesak napas atau bengkak hebat di wajah, segera bawa ke unit gawat darurat.
Perlu diketahui, sebagian besar alergi telur cenderung membaik seiring bertambahnya usia. Namun karena angka dan usia pemulihannya bervariasi antar penelitian, bila Mama merasa khawatir, konsultasikan dan pantau perkembangannya bersama dokter anak atau dokter spesialis alergi.
Bayi dengan Eksim Perlu Perhatian Khusus
Bayi yang sudah memiliki dermatitis atopik (eksim) diketahui memiliki risiko alergi makanan yang sedikit lebih tinggi.
Dalam kondisi ini, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter anak sebelum memperkenalkan alergen termasuk telur. Di bawah pengawasan dokter, pengenalan dini justru terbukti membantu mencegah alergi dalam banyak penelitian.
Nilai Gizi Telur
Telur adalah sumber gizi yang sangat baik bagi bayi di masa MPASI.
- Kolin: zat gizi yang tidak tergantikan untuk perkembangan otak. Sangat melimpah pada kuning telur
- Zat besi: lebih mudah diserap dibanding zat besi nabati, membantu mencegah anemia
- Vitamin A, D, E, K: kaya akan vitamin larut lemak
- Protein berkualitas: mengandung asam amino yang dibutuhkan untuk pertumbuhan secara seimbang
Contoh Olahan
Pure kuning telur rebus (sejak 6 bulan) Rebus telur 12–15 menit hingga matang, ambil kuningnya, haluskan dengan garpu. Encerkan dengan air matang, ASI, atau susu formula sesuai kekentalan yang diinginkan.
Telur orak-arik lembut (sejak 8 bulan) Kocok telur utuh hingga rata, masak dengan api kecil hingga lembut. Bisa juga dicampur dengan tahu atau sayuran.
Telur rebus untuk finger food (sejak 9 bulan) Rebus hingga matang sempurna, potong memanjang menjadi 4–6 bagian. Cocok untuk latihan menggigit dengan gigi depan.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Q. Ada riwayat alergi telur dalam keluarga. Apakah tetap boleh mulai dari 6 bulan? Meski ada riwayat alergi dalam keluarga, panduan saat ini tetap menganjurkan pengenalan dini. Namun pastikan berkonsultasi dulu dengan dokter anak sebelum melanjutkan.
Q. Bolehkah memberi telur setiap hari? Tidak masalah. Justru setelah si Kecil terbiasa, memberikannya secara rutin dan berkelanjutan diyakini membantu mempertahankan toleransinya.
Q. Kalau muncul alergi telur, apakah seumur hidup tidak bisa makan telur? Pada sebagian besar kasus, kondisinya membaik seiring pertumbuhan. Di bawah bimbingan dokter, terkadang dilakukan percobaan ulang secara berkala mulai dari porsi kecil.
---
📖 Cara Memperkenalkan Makanan Baru pada Bayi 📖 Panduan MPASI 6 Bulan 📖 Contoh Menu MPASI 1 Minggu untuk Bayi 6 Bulan
Referensi
- Natsume O, Kabashima S, Nakazato J, et al. Two-step egg introduction for prevention of egg allergy in high-risk infants with eczema (PETIT): a randomised, double-blind, placebo-controlled trial. The Lancet, 389(10066), 276–286; 2016.
- American Academy of Pediatrics. Updates in Food Allergy Prevention in Children. Pediatrics, 152(5); 2023.
- American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI). Prevention of Food Allergies in Infants; 2023.
- UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2018.
Resep yang Cocok





